Berita

27 Mar 2018
Kampanye Pendidikan Inklusif We Ring The Bell

Tahukah anda bahwa sembilan dari sepuluh anak penyandang disabilitas tidak diterima di sekolah reguler. Artinya ada lebih dari 33,000,000 anak penyandang disabilitas di seluruh dunia yang tidak bisa sekolah, sementara anak-anak ini ingin sekali bersekolah sama seperti anak-anak lain. Kelompok rentan ini seringkali ditinggal di rumah karena banyak sekolah reguler merasa tidak siap dan tidak mampu menerima keberadaan mereka. Sementara banyak juga orang tua yang tidak mengijinkan anak mereka untuk belajar di sekolah reguler karena khawatir mendapat perlakukan yang berbeda di kelas atau akan diolok-olok oleh teman sekolahnya.

Pada hari Rabu 21 Maret 2018, NLR Indonesia dan Yayasan Mitra Netra, melaksanakan kampanye “we ring the bell”  bersama guru dan siswa-siswi sekolah MTsN 19 Jakarta. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang telah melaksanakan pendidikan inklusif dimana anak-anak berkebutuhan khusus / anak penyandang disabilitas dapat menikmati proses belajar bersama dengan siswa umum lainnya dalam satu kelas. Kampanye “we ring the bell” dilakukan oleh sepuluh mitra NLR Indonesia program Inclusion and Disability dan melibatkan lebih dari 600 siswa-siswi dan guru di sekolah umum dan sekolah luar biasa.

 

Kampanye “we ring the bell” adalah kampanye tahunan yang diprakarsai oleh Liliane Foundation sejak tahun 2012. Dengan membunyikan lonceng atau instrument lain seperti pluit, gendang, terompet, dll, selama satu menit ibaratnya anak-anak sedang merayakan bisa menikmati pendidikan di sekolah. Pada saat bersamaan, anak-anak juga mengetahui bahwa ada banyak anak penyandang disabilitas di negara berkembang lain yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan. Di tahun ketujuh ini, kampanye “we ring the bell” bertema “SEMUA ANAK DITERIMA DI SEKOLAH, TERMASUK ANAK-ANAK PENYANDANG DISABILITAS” dan melibatkan lebih dari 1600 sekolah di Belanda, Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Di Indonesia pendidikan inklusif sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009. Aturan itu menyatakan seluruh sekolah di provinsi ataupun kabupaten/kota wajib menyediakan pendidikan inklusi. Pendidik inklusi harus tersedia di tingkat SD, SMP, dan SMA. Di indonesia, keberadaan sekolah inklusi dapat meningkatkan akses pendidikan bagi anak penyandang disabilitas karena jumlah sekolah luar biasa (SLB) masih sangat terbatas. Namun pada kenyataannya masih banyak sekolah reguler yang menolak menerima anak-anak penyandang disabilitas.

Melalui kampanye ini, NLR Indonesia dan para mitra mengingatkan kembali komitmen para pemangku kebijakan, pemerintah, organisasi lokal, orang tua, guru dan masyarakat luas untuk memastikan hak pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas terpenuhi dengan menyediakan layanan pendidikan inklusif di semua sekolah umum dan menghapus semua hambatan yang menyebabkan anak-anak penyandang disabilitas tidak bisa bersekolah. Pendidikan harus inklusif untuk semua anak termasuk bagi anak-anak penyandang disabilitas. 

Sebagai anggota dari Liliane Foundation Inclusion Network (LINC), NLR Indonesia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menandatangani manifesto (pernyataan sikap) secara online www.welcometoschool.org untuk mendukung terpenuhinya hak anak-anak penyandang disabilitas.

Copyright © 2018 Netherlands Leprosy Relief Indonesia