Kisah Inspiratif

02 Mar 2018
Ada banyak bercak di punggungnya yang tidak pernah dilihatnya

Ibu Sualifah tinggal banyu-urip, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ibu Sualifah adalah seorang yang pernah mengalami kusta. Sekitar 5 tahun lalu ia menemukan bercak di lutut putrinya, yang pada saat itu sedang bersekolah kelas 6 SD (usia 12 tahun). Ibu Sualifah tidak tahu apa bercak tersebut dan membawa putrinya ke Puskesmas, dimana putrinya dinyatakan positif kusta. Ibu Sualifah mengatakan ia pun memiliki bercak di tubuhnya, bahkan lebih banyak daripada putrinya. Ada banyak bercak di punggungnya yang tidak pernah dilihatnya. Ketika petugas Puskesmas bertanya apakah Ibu Sualifah tidur di ranjang yang sama dengan putrinya, Ibu Sualifah mengatakan ya. Ada kemungkinan bahwa Ibu Sualifah menularkan kusta kepada putrinya.

"Tetangga saya mendengar dari neneknya bahwa jika ada bercak yang tumbuh dan menyebar di kulit, maka itu adalah’ buduk’ (kata lokal untuk kusta). Ketika melihat bercak di lutut putri saya, saya sudah curiga itu kusta, meskipun saya waktu itu berpikir bahwa kusta hanya dialami orang yang jorok dan tidak merawat diri dengan baik".

"Sekian lama saya khawatir terapi tidak membawa hasil bagi saya. Setelah terapi selesai, saya kembali lagi ke Puskesmas beberapa kali dan memberitahu petugas bahwa bercaknya masih ada, bahkan semakin gelap. Petugas kesehatan di Puskesmas mengatakan itu normal dan saya harus bersabar. Kali lainnya saya ke Puskesmas karena kulit saya iritasi dan gatal-gatal. Petugas kesehatan mengatakan lagi bahwa saya tidak perlu khawatir karena mungkin hanya alergi saja. Cukup lama baru saya percaya bahwa terapi tersebut berhasil membunuh semua bakteri. Petugas kesehatan itu benar, perlahan-lahan bercak-bercak di tubuh saya menghilang".

"Petugas Puskesmas mengatakan bahwa saya beruntung karena masih di stadium awal kusta. Saya bersyukur saya langsung mencari pengobatan sehingga tidak timbul cacat dan saya sudah bersih dari bercak-bercak. Saya hanya mengalami hilang rasa di satu jari kaki saja. Saya bersyukur saya pergi ke Puskesmas pada saat masih di stadium awal. Saya takut kalau-kalau kusta itu akan timbul lagi, tetapi petugas kesehatan mengatakan kusta tidak akan kembali".

"Saya tidak patah semangat karena petugas kesehatan terus menyemangati saya agar saya tidak khawatir. Ia mengatakan terapi ini akan membantu saya supaya tidak timbul cacat di tubuh. Saya merasa kuat dan tidak patah semangat".

"Teman-teman saya tidak tahu kalau saya pernah memiliki kusta. Suami saya tahu, dan dia tidak merasa takut. Tetapi tetangga dan teman-teman saya tidak akan bisa mengerti. Dan juga saya ingin melindungi anak saya, karena stigma tentang kusta masih terlalu kuat. Jadi saya merasa tidak perlu memberitahu orang-orang karena kami tidak mengalami cacat dari kusta itu. Ketika kami setiap bulan pergi ke Puskesmas untuk mengambil obat, tetangga saya bertanya mengapa saya sering sekali ke sana. Saya mengatakan kepada mereka saya memeriksakan rematik saya. Orang-orang masih berpikir bahwa kusta adalah sesuatu yang mengerikan, oleh sebab itu saya tidak bercerita kepada siapa-siapa demi anak saya. Sekarang anak saya bersekolah di SMA, dan ia baik sekali keadaannya".

"Sekarang saya aktif sebagai anggota kelompok perawatan diri. Saya aktif melakukan deteksi dini. Saya senang melakukannya dan saya harap desa ini bisa terbebas dari kusta".

Ibu Sualifah dan putrinya menjalani terapi MDT (multi drug therapy) untuk membunuh bakteri kusta hingga dinyatakan sembuh. Untungnya Ibu Sualifah hanya mengalami satu efek samping saja dari terapi itu, di mana bercak di tubuhnya nampak semakin gelap dan semakin terlihat. Hal itu terjadi karena Ibu Sualifah memiliki kusta tipe bakteri MB (Multi Baciler) sedangkan putri Ibu Sualifah memiliki tipe bakteri PB (Pausi Baciler).

Walaupun Ibu Sualifah tidak mengalami cacat, ia membantu rekan lain yang memiliki kusta dengan cara membantu membersihkan kaki mereka. Kini, saat bertemu dengan orang yang memiliki bercak di tubuhnya, Ibu Sualifah akan diam-diam menyarankan orang itu untuk memeriksakan diri di Puskesmas. Ketika menjelaskan mengenai kusta kepada orang tersebut, Ibu Sualifah menggunakan contoh orang lain yang memiliki kusta yang menderita cacat tubuh karena kusta. Ia lalu menyarankan agar orang tersebut cepat-cepat memeriksakan diri agar tidak sampai mengalami cacat. Terkadang orang yang dicurigai memiliki kusta itu ternyata benar didiagnosa dengan kusta, namun terkadang hanya mengalami pigmentasi kulit saja.

Bersama suaminya Ibu Sualifah beternak kerang. Ia mempekerjakan beberapa orang wanita untuk membantunya membersihkan kerang dan mengeluarkannya dari cangkang setelah kerang itu direbus. Proses ini memakan waktu 4 hingga 5 jam. Sehari-harinya Ibu Sualifah dapat menjual 14 kilo kerang yang sudah bersih kepada pengepul kerang dengan harga Rp 13.000 per kilo.

Copyright © 2018 Netherlands Leprosy Relief Indonesia