Pencegahan Disabilitas

  • PROYEK SAAT INI
  • Mobile leprosy (mLep atau mPOD)
  • Map The Gap - Inclusive Medical Rehabilitation for Persons with Disability due to Leprosy, Limphatic Filariasis and Diabetes...
  • Lobby dan advocacy
Target 2018-2020: melakukan upaya gabungan yang melibatkan pemerintah (Kemenkes) dan instansi penyakit tropis terabaikan lainnya untuk mencegah disabilitas dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas.

Strategi:

  1. Implementasi berlanjut dari platform mPOD
  2. Penilaian disabilitas cepat untuk kusta dan NTD lain (LF) di 5 kabupaten
  3. Pengembangan model pendekatan terpadu untuk POD dan LF
  4. Ujicoba pendekatan terpadu POD dan LF
  5. Diseminasi hasil ujicoba pendekatan terpadu
  6. Lobi dan advokasi pemerintahan

Mitra Kerja:

Mitra kerja termasuk universitas, subdit diabetes atau subdit LF. Secara umum kelompok target hampir sama dengan program pengendalian kusta.


Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan lima penyakit tropis terabaikan (NTD) yang terdapat di Indonesia, adalah kusta, kaki gajah (filariasis), schistosomiasis, infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah, dan penyakit patek. Filariasis limfatik memiliki tingkat prevalensi tinggi di Indonesia. Pada tahun 2016, sebanyak 29 propinsi dan 239 kabupaten terjangkit LF, dengan tingkat keterjangkitan tertinggi di Maluku, Papua, Papua Barat, NTT, dan Maluku Utara. Pada saat ini ada tiga parasit limfatik yang prevalensinya masih tinggi di Indonesia: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, yang penularannya melalui 5 jenis nyamuk—Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, dan Armigeres (lihat gambar di bawah). Penyakit tersebut menjangkiti masyarakat ekonomi lemah baik di perkotaan maupun pedesaan dengan sumber daya terbatas, di mana vektor nyamuk ditemukan di daerah padat penduduk. Penyakit tersebut melemahkan kualitas kehidupan masyarakat. Strategi yang digunakan dalam menekan penyakit adalah dengan pendekatan pengobatan massal atau mass drug administration (MDA). Tantangan yang dihadapi dalam penerapan MDA di Indonesia bukanlah pada efikasi obat yang diberikan pada masyarakat, melainkan pada infrastruktur yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan, termasuk di dalamnya ketersediaan transportasi dan akses fisik menuju populasi target, basis data yang terpercaya, serta kompetensi petugas kesehatan. Tantangan lain adalah memperoleh kepercayaan dari masyarakat untuk bersedia menerima pengobatan.

Target 2018 – 2020 adalah melakukan upaya gabungan yang melibatkan pemerintah (Kemenkes) dan instansi penyakit tropis terabaikan lainnya untuk mencegah disabilitas dan meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas.

Untuk mencapai target tersebut jalur perubahan akan dimulai dengan strategi pelaksanaan berkesinambungan dari pendekatan yang kini digunakan untuk Pencegahan Disabilitas melalui platform mPOD dan inisiasi penilaian disabilitas cepat atau rapid disability appraisal (RDA) untuk POD yang digabungkan dengan penyakit tropis terabaikan lainnya (LF). Hasil RDA kemudian akan dijadikan dasar pengembangan model pendekatan terpadu untuk kusta dan LF. Model kemudian akan diujicobakan di tingkat kabupaten dan hasilnya akan dipublikasikan kepada pemangku kepentingan terkait serta mitra. Bukti hasil dari ujicoba akan digunakan untuk tujuan lobi dan advokasi pemerintah untuk penyusunan kebijakan. Jalur perubahan tersebut dirancang untuk pelaksanaan selama lima tahun. Pada tahun 2018, NLR akan menerapkan strategi RDA untuk memperoleh wawasan besarnya permasalahan disabilitas yang disebabkan kusta dan LF di daerah kedua kondisi tersebut mengalami penyebaran.

Mitra Program:

Nama

Peran dalam program NLR

Kemenkes – Subdit Pusat Diabetes

Penentu kebijakan dan pelaksana pengendalian penyakit di Indonesia. Pemangku kepentingan utama dan mitra kunci program NLR Indonesia.

Penyandang disabilitas

LSM pelaksana program implementation

UNDIP

Universitas Diponegoro yang memiliki ketertarikan menginisiasi penggabungan pendekatan program.

Copyright © 2018 Netherlands Leprosy Relief Indonesia